Langsung ke konten utama

Postingan

Mengenalmu Adalah Sebuah Anugerah

Mengenalmu adalah sebuah anugerah, tanpa ku sadari Aku hanyut dalam perasaan aneh yg kini hinggap di hatiku, perasaan yg tak pernah ku sangka-sangka kini hadir menemani hari-hariku. Awalnya biasa, Kita memang berteman dekat tapi entah mengapa semenjak perpisahan tiga bulan terakhir yang lalu Aku mulai merasakan bagaimana rasanya menahan rindu yang begitu beratnya. Ya Aku rindu, rindu rasanya melihat tawamu, rindu melihat candamu, bahkan Aku rindu melihat ekspresi wajahmu ketika sedang marah denganku. Jujur, Aku pernah menyimpan fotomu di awal semester satu, Aku pernah menyukaimu kala itu. Aku juga adalah satu-satunya orang yang memilihmu menjadi ketua kelas diawal pertama masuk kuliah. Karena dulu Aku pernah menyukaimu. Tapi tenang saja, selama dua tahun belakangan ini Aku benar-benar mengontrol perasaanku terhadapmu. Sampai suatu waktu Aku bener-benar tidak bisa mengontrol perasaan ini. Meskipun Aku sudah mencoba berusaha keras untuk menetralkan perasaan ini tapi tetap saja ada namam...

Aku Gila Karenanya

Katanya cinta datang karena terbiasa. Terbiasa melihat senyumnya, tawanya, tingkah lakunya. Ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu datang tanpa terduga. Kata orang kita akan menjadi buta seketika, bagi dia yang sedang merasakan nikmatnya penganugerahan terindah yang satu ini. Katanya ia akan tersenyum-senyum sendiri bahkan tertawa sendiri ketika membaca isi chat BBM-nya dengan si doi, yang lebih gila lagi adalah berbicara sendiri dengan benda yang ada di sekelilingnya. Sama seperti hal nya dengan apa yang kini ku rasakan, sejak pertemuan di depan mini market itu Aku selalu tersenyum sumringah tanpa henti, membayangkan wajahnya yang sedikit mirip Albert Enstein. Dan entah mengapa selalu saja ku sebut namanya di setiap topik pembicaraan, dan Aku selalu tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak bila semua orang berbicara tentangnya. Dan yang lebih gilanya lagi Aku sempat membayangkan suatu saat nanti kita menikah dan hidup bersama, punya anak, Aku jadi Ibu dan Kau jadi Ayahnya. ...

Bersama Mereka Di Awal Tahun 2016

Sebelumnya ku ucapkan ' Selamat Tahun Baru 2016 '. Malam ini berbeda dengan biasanya, Untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana sejuknya udara di pantai, mendengar gemuruh ombak di pagi hari, melihat cahaya kecil di ujung samudera, dan kadang ku dengar semilir angin. Meski langit tak berbintang, bahkan terkadang cahaya rembulan meredup tertutup awan. Bermodal mobil tua dengan kaca jendela yang sedikit sulit di tutup. Tawaku lepas bersama mereka. Ada sedikit musibah menimpa mobil kami kala itu, tapi hanya tawa yang ada. Sesederhana itukah hidup? Kami tak punya terompet, apalagi kembang api yg bila dibandingkan harganya dengan jatah makan sehari-hari kami tak akan pernah tercukupi. Hanya bisa menimbrung dengan pengunjung sebelah, sambil duduk-duduk santai menikmati semilir angin dengan beralas cover mobil warna abu-abu menjadi sandaran tempat kami melepas lelah. Lagi-lagi hanya ada tawa, bahkan dinginnya udara kala itu tak sempat ku rasakan, terbalut oleh tawa ...

Kemunculannyalah !

Entahlah... Kemunculannya berawal dari kubus bambu di sudut kampus. Entah apa yang membuat aku menjadi betah berlama-lama menatapnya. Kemunculannya membutakan mata, menulikan telinga, mematikan saraf-saraf tubuhku. Kemunculannya mampu menyimpulkan garis lengkung ke atas, mampu membuat subur dasar hati yang dulunya layu termakan waktu. Ia seperti mengandung magnet yang selalu membuatku tertarik untuk mengundangnya dalam hayalku. Bagian-bagian otakku hampir tak dapat terlihat karena di lumuti fikiran yg mengandung unsur-unsur senyawa dirinya. seketika namanya menjelmakan semua elemen seketika itu pula ia di tafsirkan menjadi sebentuk hati. Tak berwujud tapi ada, tak terlihat namun terasa. Ku terjemahkan ia bagai pelangi, suatu karya Tuhan yg agung yang melukiskan banyak warna saat kelabu mendominasi langit biru. Ia bukan sosok pangeran, bukan juga sesosok malaikat, entah jelmaan apa ia itu yang pasti kehadirannya mampu menghipnotisku. Berbagai rumus telah ku gunakan namun tetap sa...

Edisi Hari Ayah, Untuk Ayah dan Buat Ayah

Katanya tidak ada yang namanya 'Hari Ayah' yang adanya hanyalah Hari Ibu. Tapi bagiku hari itu ada, Ya Ada ! Hari itu adalah hari ini, hari dimana banyak orang mengucapkan "...Happy Father's Day, I Love You Dad...".  Entah awal pencetusannya itu darimana, Aku tidak perduli yang pasti dengan adanya Hari Ayah Aku menjadi lebih bersemangat menguras rasa sayangku padanya. Memiliki Ayah seorang Petani tidak membuatku malu dalam bersosialisasi dengan lingkungan, yang ada Aku bangga bisa terlahir dari seorang Petani.  Aku terharu bila mengingat perjuangan Ayah yang di setiap pagi buta mengayuh sepeda tua untuk pergi mengais rezeki, ketika siang datang di bawah panasnya terik matahari Ayah tetap kuat bertahan, sepertinya kulit Ayah sudah terbiasa terkena panas matahari. Ketika musim  Panen  tiba Ayah rela bermalam di bawah naungan gubuk kecil reot yang mungkin jika terkena badai akan roboh, rela di sengat serangga liar di persawahan, serta rela kedinginan jika ...

Mengulas Perjuangan

Nama gue Lailatus Sifa, bisa dipanggil Lala atau Laila tapi jangan panggil gue Sifa ya... gue gak suka kalau dipanggil Sifa, kedengerannya aneh. Udah hampir setahun yang lalu gue  lulus SMA  dan sekarang gue mau berbagi cerita sama kalian. Ceritanya begini... Pada suatu hari hiduplah seorang Putri cantik nan jelita, putri itu bernama Putri Laila. Kala itu ia sedang dirundung rasa bahagia, berpesta merayakan kelulusannya (Sok ngedongeng nih).   Jadi gini loh... Setelah lulus SMA nih gue ada niatan buat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan itu real dari lubuk hati gue yang pualin...

Lomba Karikatur #ANZni #SPEKTA _2014

Ini adalah foto gue saat mengikuti lomba karikatur di kampus dengan tema kebangsaan, gak cuma ngegambar aja tapi gue pun harus mendeksripsikan gambar tersebut, nah berikut adalah pendeksripsian gue tentang karikatur ini..... *cekidot ! Sekarang ini nilai luhur pancasila kian memudar karena banyaknya orang-orang yang tidak menghargai falsafah bangsa sendiri. Gue pun berinisiatif untuk membuat karikatur dengan judul  “Hargailah Pancasila” . Mengapa demikian? Karena bila kita lihat lebih jeli lagi orang-orang jaman sekarang sudah tidak menghargai nila-nilai pancasila, yang dimana pancasila itu adalah suatu pedoman bangsa kita yakni bangsa Indonesia. Dapet dilihat pada gambar ini terpampang seekor garuda yang diinjak oleh oknum yang tak berperasaan. Jika dipahami lebih terperinci lagi gambar ini memiliki makna bahwasanya kita sebagai masyarakat indonesia s...