Langsung ke konten utama

Aku Gila Karenanya



Katanya cinta datang karena terbiasa. Terbiasa melihat senyumnya, tawanya, tingkah lakunya. Ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu datang tanpa terduga. Kata orang kita akan menjadi buta seketika, bagi dia yang sedang merasakan nikmatnya penganugerahan terindah yang satu ini. Katanya ia akan tersenyum-senyum sendiri bahkan tertawa sendiri ketika membaca isi chat BBM-nya dengan si doi, yang lebih gila lagi adalah berbicara sendiri dengan benda yang ada di sekelilingnya.
Sama seperti hal nya dengan apa yang kini ku rasakan, sejak pertemuan di depan mini market itu Aku selalu tersenyum sumringah tanpa henti, membayangkan wajahnya yang sedikit mirip Albert Enstein. Dan entah mengapa selalu saja ku sebut namanya di setiap topik pembicaraan, dan Aku selalu tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak bila semua orang berbicara tentangnya. Dan yang lebih gilanya lagi Aku sempat membayangkan suatu saat nanti kita menikah dan hidup bersama, punya anak, Aku jadi Ibu dan Kau jadi Ayahnya. Gila aku di buatnya.
Yang jelas semalaman suntuk wajahnya menggerayangi pikiranku, sudah terlalu amat sering ku buka isi chat di BBMku dengannya. Tak ada pembicaraan yang begitu istimewa di dalamnya tapi entah kenapa selalu memacu hatiku untuk membacanya berkali-kali, lagi dan lagi.
Lagi-lagi Aku tersenyum-senyum sendiri membacanya, Ah ini gila.


Gadis kasmaran
Bekasi, 5 Januari 2016 - 2.42 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelangi Palsu

Sebenarnya Pelangi itu tidak indah, kenapa? karena Pelangi hanya ada saat setelah hujan turun setelah itu lama-kelamaan dia menghilang. seharusnya Pelangi itu selalu ada karena pada dasarnya dia memberi keindahan (katanya) tapi pada kenyataannya dia menghilang secara perlahan, bukankah itu menyakitkan? Aku suka Pelangi, tapi dulu. sekarang? aku benci Pelangi.  tidak selamanya apa yang kita anggap indah itu akan selalu membuat kita bahagia justru BIASANYA yang indah lebih menyengsarakan. sekarang aku mengerti kenapa Tuhan menghadirkan hujan karena agar Pelangi itu datang untuk menebar kebahagian, akan tetapi dari sanalah aku menyimpulkan bahwa Pelangi datang hanya utuk sesaat saja, hanya untuk membuat senyuman sesaat setelah hujan lalu setelah itu dia menghilang entah kemana.

Suara tentangjingga

Yang pertama, Sebagian dari mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan nanti, besok dan lusa setelah bersama. Sebagian lainnya sibuk merencanakan konsep bahagianya, sebagian lagi mulai berjanji tak akan saling menyakiti dan bersumpah tentang berdua saja tanpa mereka tentang memiliki satu sama lain dan takan terpisahkan. Tidak dengan sebagian lain, Akuyang sedang sibuk berkemas, sibuk menata hati, sibuk menguatkan diri kalau saja suatu saat nanti harus ada yang pergi Aku memang begini, sulit dimengerti, bukan tak ingin mencintai sebab takut disakiti tapi Aku mengerti kamu tak harus menetap dan paham tentang berpindah, seperti awan yang tahu kapan harus menjadi hujan, seperti hujan yang meski tak ingin tetap harus berani jatuh menyapa tanah dari ketinggian, seperti tanah yang tak bisa menolak harus meresapkan air dan menyimpannya dalam aliran-aliran sungai yang tak tahu menahu. Kau harus mengerti, tanpa diminta, mereka melakukannya dengan senang hati, tanpa dipaksa Tuhan mengar...

Kemunculannyalah !

Entahlah... Kemunculannya berawal dari kubus bambu di sudut kampus. Entah apa yang membuat aku menjadi betah berlama-lama menatapnya. Kemunculannya membutakan mata, menulikan telinga, mematikan saraf-saraf tubuhku. Kemunculannya mampu menyimpulkan garis lengkung ke atas, mampu membuat subur dasar hati yang dulunya layu termakan waktu. Ia seperti mengandung magnet yang selalu membuatku tertarik untuk mengundangnya dalam hayalku. Bagian-bagian otakku hampir tak dapat terlihat karena di lumuti fikiran yg mengandung unsur-unsur senyawa dirinya. seketika namanya menjelmakan semua elemen seketika itu pula ia di tafsirkan menjadi sebentuk hati. Tak berwujud tapi ada, tak terlihat namun terasa. Ku terjemahkan ia bagai pelangi, suatu karya Tuhan yg agung yang melukiskan banyak warna saat kelabu mendominasi langit biru. Ia bukan sosok pangeran, bukan juga sesosok malaikat, entah jelmaan apa ia itu yang pasti kehadirannya mampu menghipnotisku. Berbagai rumus telah ku gunakan namun tetap sa...