Langsung ke konten utama

Untitle

"kamu apa kabar disana? Jangan lupa makan yah, jaga kesehatan, kita disini kangen kamu, love you"
Aku menunggu kata-kata itu, kata-kata indah itu. Sejak awal aku disini aku menunggu kata itu keluar dari ayah ibu ku. Tapi sampai sekarangpun tak pernah terlontar kata yang manis itu. Hanya sekedar menanyakan kabarpun tak pernah terlontar, jangankan di telepon di sms pun tak pernah. Mungkin mereka buta akan tekhnologi atau mungkin mereka terlalu sibuk, atau mungkin memang pada dasarnya mereka cuek. Aku mencoba menhubungi mereka ya... hanya sekedar bebasa-basi tentang kerinduan ku pada mereka namun tiga hari ku menunggu tetap tak ada jawaban apa-apa. Hingga akhirnya ponsel ku berdering, terlihat jelas nama ayah tertera di ponsel ku, segera ku angkat panggilan telepon darinya.
"hallo, assalammualaikum..." sapa ku dengan ceria.
"ya, waalaikumssalam" jawabnya singkat. "uang udah di kirim tinggal cek di ATM ya" lanjutnya dengan cepat.
"Iya" kata ku, belum sempat aku berbincang ayah sudah menutup teleponnya.
Ya itulah yang terjadi setiap ada panggilan atau sms masuk dari ayah. Dalam


hati berkata "pengen deh ngobrol sama keluarga di rumah, berbagi cerita tentang kisah ku disini". Meskipun seperti itu aku mencoba berfikir dewasa bahwa apa yang terjadi bukanlah sebuah kesengajaan. Aku tahu pasti mereka disana juga merindukanku disini sama denganku yang rindu akan suasana indah berbalut rindu.
Terkadang aku menemui banyak cerita yang mengisahkan tentang ayah dan ibu, banyak pula yang bercucuran air mata bila mendengar kisah tersebut tapi aku tidak sedikitpun meneteskan air mataku bukan karena aku sok tegar atau munafik tapi karena ada sebuah alasan yang membuat aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membiarkan air mata ini terjatuh begitu saja. Menangis? Tak ada salahnya jika kita menangis karena kita bebas untuk mengungkapkan perasaan kita dengan luapan air mata tersebut, menangislah jika itu dapat mengurangi rasa sakitmu. Aku pun sama seperti kalian, seorang anak yang rentan akan kisah-kisah yang berceritakan tentang ayah dan ibu, namun aku hanya bisa tersenyum dan berdoa dalam hati berharap agar keluargaku disana baik-baik saja. Sakit memang, tapi dalam sujudku tak pernah sedikitpun aku lupa untuk menyebut namanya, tak terlewatkan untuk selalu mengirim doa untuknya. Aku tahu dan yakin mereka disana pasti sama seperti aku, tak pernah absen menyebut namaku dalam sujudnya, selalu ada namaku dalam tiap bait doanya.
Bukan terkadang lagi tapi setiap malam aku terduduk manis di dekat jendela yang tertembus terangnya cahaya sang rembulan yang mengundangku untuk bicara padanya dan memintanya untuk menyampaikan pesanku pada tuhan bahwa aku rindu Ayah, Ibu, dan Keluargaku dirumah. Meski kita kesulitan dalam berkomunikasi tapi aku berharap dalam mimpiku nanti aku ingin bertemu Ayah, Ibu, dan keluarga besarku, berharap dalam mimpiku itu akan terulang moment-moment dimana saat kita kumpul bersama dan tertawa bersama tanpa ada sedikit beban yang menghantui. yeah benar, hanya itu.
Disini aku berjuang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Aku bersyukur pada tuhan karena aku bisa mengenyam pendidikan kejenjang yang lebih tinggi dan betapa bangganya mendapatkan gelar mahasiswa. Nanti, akan ku dapatkan diriku berada dibarisan terdepan saat memakai toga yang akan mengantarkan ku pada tempat yang TEPAT karena "IPK tinggi hanya bisa mengantarkan kita pada wawancara kerja tapi Leadership-lah yg bisa mengantarkan kita ke masa depan". Jerih payah Ayah dan Ibu tak akan pernah ku sia-siakan. Ayah Ibu, aku berjanji jika pulang nanti aku akan membawa piala kebanggaan dengan kalung kehormatan ke rumah kita dan ini adalah janji seorang anak pada Ayah Ibunya. Promise! ilysm :* 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara tentangjingga

Yang pertama, Sebagian dari mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan nanti, besok dan lusa setelah bersama. Sebagian lainnya sibuk merencanakan konsep bahagianya, sebagian lagi mulai berjanji tak akan saling menyakiti dan bersumpah tentang berdua saja tanpa mereka tentang memiliki satu sama lain dan takan terpisahkan. Tidak dengan sebagian lain, Akuyang sedang sibuk berkemas, sibuk menata hati, sibuk menguatkan diri kalau saja suatu saat nanti harus ada yang pergi Aku memang begini, sulit dimengerti, bukan tak ingin mencintai sebab takut disakiti tapi Aku mengerti kamu tak harus menetap dan paham tentang berpindah, seperti awan yang tahu kapan harus menjadi hujan, seperti hujan yang meski tak ingin tetap harus berani jatuh menyapa tanah dari ketinggian, seperti tanah yang tak bisa menolak harus meresapkan air dan menyimpannya dalam aliran-aliran sungai yang tak tahu menahu. Kau harus mengerti, tanpa diminta, mereka melakukannya dengan senang hati, tanpa dipaksa Tuhan mengar...

Bagian 1

Aneh, aku hampir tidak bisa menulis kata-kata tentangnya. Apa aku telah kehabisan kata-kata? Bahkan jemari ku pun tak mampu mengartikan maksud hati. Berasa, di hati Namun bibir tak mampu berucap Jemari tak mampu menari pada secarik kertas. Ini berawal sejak ia berbicara kepadaku, tak ku sangka obrolan singkat kami pada waktu itu mengundang rasa aneh ini dan membawanya hingga detik ini. Benar, ia datang tiba-tiba Begitu saja, tanpa bisa aku menerka Aku melihat ada kehidupan di bola matanya Sungguh indah, seperti surga Mendamaikan... Di setiap perdetik tatapannya membawaku kian hanyut untuk terus menatapnya. Aku enggan pergi menatapnya Caranya bertutur kata begitu menyejukan Sejenak otakku penuh dengan bayangnya Diikuti rasa aneh itu, seakan akan otak dan hatiku begitu kompak Sumpah, rasa apa itu? Tak paham aku mengartikannya. Dan yang lebih gila lagi, di saat kepergianku meninggalkan tempat itu tiba-tiba saja langkahku begitu berat. Mungkin saat ini juga hanya ra...

JERITAN SANG GARUDA

Lagi dan lagi negeri tercinta ini di landa musibah yang begitu luar biasa dari gempa bumi, gunung meletus longsor, puting beliung, hingga banjir dimana-mana. Kalau sudah  seperti  ini siapa yang paling bersalah? Dan apakah kita akan menyalahkan Tuhan sang pencipta alam ini? Atau  adakah orang-orang tertentu  yang harus disalahkan? Tidak. Semua itu bukanlah salah Tuhan yg Maha Agung dan  mungkin  bukan juga salah para  Khalifah  yang ada di muka bumi ini tapi cobalah hampiri air yang jernih dan nampak tenang itu, hampiri ia dengan tenang jiwa dan lihatlah disana telah terjawab atas segala pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ya, kitalah penyebab adanya masalah itu. Mungkin...